Your smile

February 1st, 2008 by ahmadev4love

Fariz RM - Your SmileFa23

i don’t know why
God gives me a chance to know you

and all i know suddenly you came into my life
but first i guess that we only care for each other
and i realize the growing seeds of love
you showed me through your smile
that always keeps me growing strong
your smile that makes me love you for so long
your smile makes me believe on happiness is not too far beyond to reach
your smile’s the only thing that i’ll remember ’til the end of time

when i’m with you like sadness no longer exist
though i know having you the lonely lasts in my mind
to be honestly the story goes forever
‘cos as long as you will be as you are
as how a woman should be
through your smile will always lead my way
your smile inspired melodies in every notes i play
your smile and memories above you makes me realize
my place’s in your heart
‘cos for me your smile means everything from you
to keep me alive

oohhh, your smile
all that leads my way
in every notes i play

your smile that makes me love you for so long
your smile that always keeps me going strong
your smile makes me believe on happiness is not too far too reach
‘cos for me your smile means everything from you
your smile’s the only thing that i’ll remember
‘cos for me your smile means everything from you
to keep me alive

your smile

Popularity: 11% [?]

Sumber: LirikLaguIndonesia.Net

= Miss u so much larasati=

CINTA LAKI-LAKI BIASA (True Story)

October 23rd, 2007 by ahmadev4love

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa
dia mau
menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang,
hari-hari yang
dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata
miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama,
kakak-kakak,
tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari
sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.
Berpasang-pasang
mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan
lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali
beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua
menunggu.
Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba
bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan
detil dan
spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di
kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang
pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli
untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena
semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang
sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua,
disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari
Papa dan
Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania
bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang
balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang
melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli
berani
melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda
baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu
berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh
selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya
pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif
bicara,
masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh
datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana,
sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca
puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.
Bakatmu
yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki
manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa,
kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian
mereka
atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di
kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat
tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan
biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat
biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi
parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana
tawakkal
hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat
pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli.
Barangkali
karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak
punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’.
Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania
menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di
sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering
berbisik-bisik di
belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania
masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar
tampak di
mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga
Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau
cara
dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat
bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak
percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!
Kamu adik kami
yang tak
hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar,
dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini
dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan
sukses.
Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik
mereka
beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah
menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.
Padahal
Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu
perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka
memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari
cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania
memintanya
untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika
digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu
khawatir
sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud
baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus
pipi
Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan
listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
dengan
pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat
sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia,
alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin
gemilang,
uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu,
dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di
puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan
bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan
kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania
belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan
bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak.
Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu
itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua
minggu dari
waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera
dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke
dalam
rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga
perempuan itu
merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam
hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya
waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan
menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta
orangtua
Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat
pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan
melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi
pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit,
kata
seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan.
Mereka
sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang
tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah,
didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu
kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa
menghibur
karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi
perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua
kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau
begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang
karena
Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar
operasi. Ia
tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat
ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan
dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu
yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir,
telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di
sekitarnya, dan
langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan
diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir
lelaki
itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada
varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana
pecah! Bayi
mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.
Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung
beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya
dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari
kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga
anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu
sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak
sampai
empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di
rumah
sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil.
Walau tak
banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah
sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak
perusahaan
tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi
Rafli
terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran
kecil,
dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang
perawat
dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat
lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil
mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir
untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit,
mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang
lelaki
itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya
dengan
suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak
bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam
sujud dan
permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa
melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang
menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan
ibunya. Di
luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak
bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata,
gerak
bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang
cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah
penat
Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan
mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
airmata
yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.
Lelaki
biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir.
Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah
satu per
satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju
rumah
dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania
seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.
Membersihkan
wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania
selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu.
Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu
meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan
paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar.
Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran,
nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti
juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu
bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di
sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang
berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum
hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di
jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas
hanya
memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua
berbisik-bisik.

Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya
memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan
Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin
frustrasi,
merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di
luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu
begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah
mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua,
anak-anak
yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang
lebih
dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski
kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir
dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa
yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -

SMS …

July 4th, 2007 by ahmadev4love

Short Message Service atau yg lebih dikenal dengan akronim SMS … Berbagai layanan via fitur yg satu ini diberikan oleh penyedia layanan jasa komunikasi mobile di negeri ini … mulai dari picture sms sampai sekarang ada yg namanya voice message service .. banyak macamlah tinggal liat saja di website masing2 provider …
"
begitu hp bunyi, semua demi yang ada di ujung hp
mau bukti ? telpon aja mas yang satu ini, kurang dari satu dering
telepon anda akan diangkat. Kurang dari satu menit sms anda akan
dibalas (kalo ada pulsa dan signal tentunya)" ..prasetyo

Sebenarnya lagi iseng liat2 comment dari salah satu teman,perhatikan yg di dalam kurung(kalo ada pulsa dan signal tentunya) jadi pengen nulis sesuatu tentang sms
apalagi udah ada lagu dangdut yg judulnya sms … (cari sendiri ya di inet)

Kembali ke dalam kurung (pake gaya tukul dikit aja ah) …
"Kalo ada pulsa dan signal tentunya …" ya memang betul,teknologi sudah sangat banyak memberikan kemudahan bagi manusia,khususnya di bidang komunikasi yg sangat cepat kemajuan teknologinya baik perangkat lunak maupun perangkat keras  …
Semua kembali kepada manusianya yang menggunakan teknologi itu ..Kalo pulsa ada .. signal kuat .. jaringan dudulz ya ga bakalan terkirim smsnya … apalagi kalo dah ada gangguan di luar batas kemampuan yg empunya hp (karena ga ngerti teknologi) … wah nyerah deh ..

Intinya adalah pengendalian diri //(kayak ustadz aje dah..) maksudnya ya ntu tadi kalo tiba2 kirim terima sms ga lancar ya maklum aja kali ya …
=harap maklum=
SMS dikirim … SMS diterima …

Matahari, bulan dan bintang

June 18th, 2007 by ahmadev4love

Matahari, bulan dan bintang.
Ketiganya merupakan karya cipta yang serba Maha Segala-galanya. DIA hanya cipatkan  satu Matahari, satu Bulan yang mengitari bumi tetapi berjuta bintang yg sinarnya kerlap-kerlip di kegelapan malam.
Matahari memberikan cahaya kepada bulan sehingga bulan dapat nikmati hangatnya sinar matahari yg jatuh di permukaan bulan. Dengan sinar dari matahari itulah bulan dapat bersinar dan terlihat indah ketika anak manusia melihatnya dari bumi.

Entah sudah berapa lagu yang terinspirasi dari Matahari, Bulan juga Bintang serta lirik lagu yg memuat kata Matahari, Bulan dan Bintang.
"Jangan berhenti … mencintaiku … meski Mentari berhenti bersinar .. jangan berubah sedikitpun … di dalam cintamu … ku temukan bahagia .." (Titi Dj song)
"Pernah kau lihat bintang..bersinar putih penuh harapan..Tangan halusnya terbuka..Coba temani, dekati aku..Selalu terangi gelap malamku" (Peterpan song)
"
  kutanya rembulan…

  dimana dirimu kini…

  saat ku terbangun

  dari tidurku ini"    (Gigi song)

Mentari dgn sinarnya mampu memberikan kehangatan bagi yg hidup di bumi dah sinarnya kepada bulan tuk terangi bumi yg memasuki waktu malam. Di malam yang cerah, bulan yg bersinar indah dan bintang-bintang.
Keindahan bulan dan kehangatan matahari hanya bisa dirasakan oleh anak manusia yg hidup di atas bumi. Merekalah yang tau, betapa hangatnya sinar mentari (walo terkadang panas ketika siang hari) dan betapa indahnya sinar bulan di malam hari.
Sedangkan bulan ??? bulan tetap dingin karena memang sudah ditakdirkan Sang Pencipta seperti itu … gelap dan dingin …
"Tuhan … Mengapa bumi terasa hangat karena sinar mentari yg KAU arahkan kesana dan makhluk di bumi melihat aku begitu indah di malam hari karena cahaya Matahari sedangkan aku tidak merasakan hangat dan indahnya diriku .. Mengapa Tuhan?" tanya bulan kepada Sang Pencipta.
"AKU ciptakan Matahari yg begitu panasnya dan engkau begitu dingin semuanya untuk keseimbangan dan berbagi rasa,indahnya sinar bulan di malam hari yg berasal dari matahari serta hangatnya sinar Matahari ke berikan kepada mereka yang hidup di Bumi. Karena Matahari yg begitu panas hingga mengeluarkan sinar, engkau (bulan) dapat bersinar di malam hari dan indah terlihat dari bumi. Walau Matahari jauh dari dirimu, kau tetap akan terlihat indah selama di bumi tidak ada awan yg menutupi dirimu.. dan ku temani dirimu (bulan) dengan bintang-bintang agar kau tidak merasa sendiri jg makin terlihat indah walau bintang tidak seindah dan seterang cahayamu bulan" jawab Sang PENCIPTA.

Bumi bersama bulan mengitari matahari dengan orbitnya masing2 … Entah apa yg terjadi bila matahari berhenti bersinar …? Yg pasti, bulan tak lagi indah … bumi tak  lagi hangat … Dingin .. Gelap … Tak ada lagi keindahan itu dan kehangatan itu … " Semoga saja tidak …

Matahari bulan dan bintang … Berikan cahaya di waktu yg dikehendaki … Matahari siang adalah waktumu bersinar … Bulan dan Bintang tugas kalian berikan cahaya di malam hari .. Dengan sinar bulan dan bintang yg tidak tersaa panasnya, semua yg ada di bumi yg merasakan malam dapat beristirahat tuk bersiap menanti kedatangan Matahari dengan kehangatan yg dinanti semua makhluk yang ada di bumi.

Apa jadinya kalo sinar bulan dan cahaya kerlip bintang terasa hangat di malam hari …???  Entahlah ….

 

Tak akan ada cinta yg lain

June 11th, 2007 by ahmadev4love

Haruskah kuulagi lagi
Kata cintaku padamu
Yakinkan dirimu

Masihkah terlintas di dada
keraguanmu itu
susahkan harimu

Tak akan ada cinta yang lain
Pastikan cintamu hanya untukku
Pernahkah tebersit olehmu
Akupun takut kehilangan
dirimu …

Ingatkah satu bait kenangan
Cerita cinta kita
Tak mungkin terlupa

Buang semua angan burukmu itu
Percaya janji kita
Aku cinta padamu

Tak akan ada cinta yang lain
Pastikan cintamu hanya untukku
Pernahkah tebersit olehmu
Akupun takut kehilangan
dirimu …

Terima kasih Ibu …

June 8th, 2007 by ahmadev4love

Sebuah cerita tentang seorang anak dan bundanya …

" BUNDA… "

Suatu saat bunda saya mengajak saya
untuk berbelanja bersamanya karena dia
membutuhkan sebuah gaun yang baru. Saya
sebenarnya tidak suka pergi
berbelanja bersama dengan orang lain,
dan saya bukanlah orang yang sabar,
tetapi walaupun demikian kami berangkat
juga ke pusat perbelanjaan tersebut.

Kami mengunjungi setiap toko yang
menyediakan gaun wanita, dan bunda saya
mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan
semuanya. Seiring hari yang
berlalu, saya mulai lelah dan bunda saya
mulai frustasi. Akhirnya pada toko
terakhir yang kami kunjungi, bunda saya
mencoba satu stel gaun biru yang
cantik terdiri dari tiga helai. Pada
blusnya terdapat sejenis tali di bagian
tepi lehernya, dan karena ketidaksabaran
saya, maka untuk kali ini saya ikut
masuk dan berdiri bersama bunda saya
dalam ruang ganti pakaian, saya melihat
bagaimana ia mencoba pakaian tersebut,
dan dengan susah mencoba
untuk
mengikat talinya. Ternyata,
tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan
oleh penyakit radang sendi dan sebab itu
dia tidak dapat melakukannya, seketika
ketidaksabaran saya digantikan oleh
suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya.
Saya berbalik pergi dan mencoba
menyembunyikan air mata yang keluar
tanpa saya sadari. Setelah saya
mendapatkan ketenangan lagi, saya
kembali masuk ke kamar ganti untuk
mengikatkan tali gaun
tersebut. Pakaian ini begitu indah,dan
dia membelinya.

Perjalanan belanja kami telah berakhir,
tetapi kejadian tersebut terukir dan
tidak dapatterlupakan dari ingatan saya.

Sepanjang sisa hari itu, pikiran saya
tetap saja kembali pada saat berada di
dalam ruang ganti pakaian tersebut dan
terbayang tangan bunda saya yang
sedang berusaha mengikat tali blusnya.
Kedua tangan yang penuh dengan kasih,
yang pernah menyuapi saya, memandikan
saya, memakaikan baju, membelai
dan
memeluk saya, dan terlebih dari
semuanya, berdoa untuk saya, sekarang
tangan itu telah menyentuh hati saya
dengan cara yang paling membekas dalam
hati saya.

Kemudian pada sore harinya, saya pergi
ke kamar bunda saya, mengambil
tangannya, menciumnya …
dan yang membuatnya
terkejut,memberitah ukannya
bahwa bagi saya kedua tangan tersebut
adalah tangan yang paling indah di
dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa
Tuhan telah membuat saya dapat
melihat dengan mata baru, betapa
bernilai dan berharganya kasih sayang
yang penuh pengorbanan dari seorang
bunda. Saya hanya dapat berdoa bahwa
suatu hari kelak tangan saya dan hati
saya akan memiliki keindahannya tersendiri.

Dunia ini memiliki banyak keajaiban,
segala ciptaan Tuhan yang begitu agung,
tetapi tak satu pun yang dapat
menandingi keindahan tangan bunda…

" Lakukanlah yang Terindah dan Terbaik
yang Anda dapat persembahkan Untuknya"

I ALWAYS LOVE MY MOM….^_^

Terima kasih Ibu … ( Kapan ya terakhir aku ucapkan itu …? )

   

Belajar dari jam … Ok …

June 8th, 2007 by ahmadev4love

BELAJAR DARI SEBUAH JAM.

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya.
"Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,536,000 kali selama setahun?".
"Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?".
"Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?"
"Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.
"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?"
"Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.
Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam :"Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?".
"Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik.
Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti.
Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,536,000 kali.

Renungan :
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala beban yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggaptidak mungkin untuk dilakukan sekalipun.

Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.
Berjuanglah, sampai anda benar2 jatuh dan tidak berdaya lagi

For whitecandle

June 3rd, 2007 by ahmadev4love

Just stand beside me then we go to lovely place we have never been there before.
When you tire …
Just sit in front of me so i can see and feel the beauty of yours then talk about the world and it’s content
When you tire …
Just lay on your body on your bed then take a good rest and i will come into your sweet dream until the sun give it’s light for all of us.

Love you so much,white candle.
= Fath =

Labirin … ???

June 3rd, 2007 by ahmadev4love

Labirin … ada berbagai macam bentuk dan modelnya, lingkaran dan kotak … taman labirin dibuat oleh perancangnya sedemikian hingga seseorang yang masuk dalam ke dalam taman itu harus mencari jalan keluar dari tempat itu … Butuh kesabaran dan konsentrasi yang tinggi untuk mencapai jalan keluar dari taman labirin … Capek dan lelah jelas dua hal yang akan dialami ketika harus berputar kembali ke jalan yang sudah terlewati … Intuisi juga sangat dibutuhkan dalam melewati taman labirin … "Dimana ya ujungnya … ?" serasa berjalan tanpa ujung ketika berputar-putar di dalam taman labirin dan hanya menemukan jalan buntu… Berjalan di dalam taman labirin agak-agak sulit tapi dengan melihat petunjuk mungkin sedikit membantu untuk menemukan ujung dari taman labirin … Ya, dengan petunjuk yang ada disekitar taman labirin juga kesabaran sangat dibutuhkan .. Tidak sedikit yang keluar lagi ke garis awal karena merasa tidak mampu untuk menemukan jalan kelaurnya … Petunjuk yang sudah dibuat sang perancang tentunya sangat membantu berjalan di dalam taman labirin untuk menemukan jalan keluar dari taman labirin.

Petunjuk, kesabaran dan kemampuan membaca petunjuk … semoga bisa menemukan jalan di dalam taman labirin …
Mo ikut  masuk ke taman labirin ? sepertinya kita semua sudah bermain dan masuk dalam taman labirin … Tinggal ikuti petunjuk, kesabaran dan belajar untuk memahami petunjuk yang ada .. ya kalo ga bisa juga ikutin orang yang sudah bisa menemukan jalan keluarnya aja deh … hehehe

Sunp0014

Kisah cinta seorang dinda

June 3rd, 2007 by ahmadev4love

Kisah Cinta Seorang Dinda
Satu kisah Cinta Biasa

Suami saya adalah seorang jurnalis, saya mencintai sifatnya yang spontan dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya
ketika bersandar dibahunya.3 tahun dalam masa perkenalan dan 2 tahun dalam masa
pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa letih…lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimental dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindui saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang sentiasa mengharapkan belaian ayah dan ibunya. Tetapi,semua itu tidak pernah saya peroleh. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitifnya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam perkawinan kami telah mematahkan semua harapan saya terhadap cinta yang ideal.Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan penceraian.
"Mengapa?"Dia bertanya dengan nada terkejut. "dinda letih, Abang tidak pernah
mencoba memberikan cinta yang dinda inginkan." Dia diam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, nampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang lelaki yang tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?
Dan akhirnya dia bertanya.
"Apa yang bisa Abang lakukan untuk mengubah fikiran dinda?" Saya menatap matanya
dalam-dalam dan menjawab dengan perlahan."dinda ada 1 pertanyaan, kalau Abang menemukan jawabannya didalam hati dinda maka dinda akan mengubah fikiran dinda; Seandainya,dinda menyukai sekuntum bunga cantik yang ada ditebing gunung dan kita berdua tahu jika Abang memanjat gunung-gunung itu, Abang akan mati.
Apakah yang Abang akan lakukan untuk dinda?"
Dia termenung dan akhirnya berkata, "Abang akan memberikan jawapannya esok." Hati saya terus gundah mendengar responnya itu.
Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan…
‘Sayangku, Abang tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi izinkan Abang untuk menjelaskan alasannya." Kalimat pertama itu menghancurkan hati saya. Namun, saya masih terus ingin membacanya.
"dinda boleh mengetik di komputer dan selalu mengusik program didalamnya dan akhirnya menangis di depan monitor, Abang harus memberikan jari-jari Abang untuk membantu dinda memperbaiki
program tersebut."
"dinda selalu lupa membawa kunci rumah ketika dinda keluar, dan Abang harus memberikan kaki Abang untuk menendang pintu, dan membuka pintu saat dinda pulang." "dinda suka jalan-jalan di shopping center tetapi selalu tersesat bahkan ada saatnya tersesat di tempat-tempat baru yang dinda kunjungi, Abang harus mencari dinda dari satu tempat ke tempat yang lain untuk membawa dinda kembali ke rumah."
"dinda selalu pegal pegal sewaktu ‘teman baik’ dinda datang setiap bulan, dan Abang harus memberikan tangan Abang untuk memijit dan mengurut kaki dinda yang pegal
itu."
"dinda lebih suka duduk di rumah, dan Abang selalu risau kalau kalau dinda menjadi Bosan. Dan Abang harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburkan hati dinda dirumah atau meminjamkan lidah Abang untuk menceritakan hal-hal lucu yang Abang alami."
"dinda selalu menatap komputer, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan mata dinda, Abang harus menjaga mata Abang agar ketika kita tua nanti, abang dapat menolong mengguntingkan kuku dinda dan memandikan dinda."
"Tangan Abang akan memegang tangan dinda, membimbing menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna
bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah dinda." 
"Tetapi sayangku, Abang tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, Abang tidak sanggup melihat airmatamu mengalir menangisi kematian Abang."
"Sayangku, Abang tahu, ada banyak orang yang mencintaimu lebih daripada cinta Abang kepada dinda."
"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan oleh tangan, kaki, mata Abang tidak cukup bagi dinda. Abang tidak akan menahan dinda mencari tangan, kaki dan mata lain yang dapat membahagiakan dinda."
Airmata saya jatuh ke atas tulisannya hingga membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya lagi.
"Dan sekarang, dinda telah selesai membaca jawaban Abang. Jika dinda puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan Abang tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, Abang sekarang sedang berdiri di luar sana menunggu jawaban dinda." "Tetapi, jika dinda tidak puas, sayangku…biarkan Abang masuk untuk mengemaskan barang-barang Abang,dan Abang tidak akan menyulitkan hidup dinda. Percayalah, kebahagiaanAbang adalah bila dinda bahagia."
Saya tertegun. Segera saya memandang pintu yang sedang tertutup rapat.
Lalu saya segera berlari membukakan pintu dan melihatnya berdiri didepan pintu dengan wajah gusar sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.

Oh! Kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam ‘wujud’ yang kita inginkan, maka cinta itu telah hadir dalam ‘wujud’ yang tidak pernah kita bayangkan sebelum ini.

#Tulisan di atas bukan saya yang menuliskan ceritanya … saya dapatkan dari kompetisi menulis cerita dan sang penulisnya menang di salah satu website provider jasa telekomunnikasi yang ada di indonesia#

Kalo boleh saya berpendapat dari cerita di atas adalah "Mencintai adalah mengerti dan memberi tanpa berharap untuk dimengerti dan diberi".

Bagaimana dengan anda ?